Bacaan yang mulai berbeda

Bacaan yang mulai berbeda

Sounds familiar? Lirik lagu Mangu by Fourtwnty. Sebenarnya kalau di lirik lagu tersebut berbunyi "Bacaan dan doa yang mulai berbeda". Tulisan ini bukan ke arah "sana", tapi gua mau bahas journey habit membaca gua yang sudah lama gua tinggalkan selama kurang lebih tiga tahun.

Kali pertama gua tertarik untuk membaca adalah saat kelas 1 sma, punya temen yang hobinya baca dan dia punya buku satu rak penuh. Karena gua satu organisasi sama dia lantas gua tanya, "za (namanya raza) ada ga buku yang bikin gua tertarik buat baca buku?". Dia mikir sebentar dan bilang, "ada dik, besok gua bawain aja ya". 

Besoknya gua dipinjemin buku yang berjudul Socrates Cafe. Gua pikir, "apa ini? buku tentang sejarah filsuf apa gimana?". Selepas gua pulang sekolah gua baca dan bener, di halaman awal ngebahas tentang sejarah socrates dan lingkungannya pada saat itu. Semenjak itu, gua ga ngelanjutin bukunya. Beruntung, di sekolah gua ada program literasi sebelum masuk kelas, jadi gua terpaksa untuk membaca buku itu pada saat program berlangsung. Akan tetapi, setelah gua sadari, itu hanya bagian pembuka dari buku tersebut, selanjutnya buku tersebut membahas bagaimana kita bijak dan kritis di lingkungan sosial maupun di internet. Gua lega ternyata itu bacaan ringan dan akhirnya gua selesaikan buku itu dalam berbulan-bulan.

Setelah gua menyelesaikan buku itu, gua ngerasa kok ada serunya ya baca buku tuh. Gua memulai coba membaca buku lagi lewat buku Harry Potter 1 dan 2. Gua memutuskan untuk ga membeli seri selanjutnya dikarenakan mahal dan ketertarikan baca buku gua berhenti di saat itu. 

Dua tahun setelahnya, pandemi. Di saat pandemi, banyak hal yang gua explore, dari belajar editing, desain, fotografi, sampai akhirnya gua memutuskan untuk "mencoba" buat kembali baca buku. Alhamdulillah kegiatan itu sebenarnya didukung oleh lingkungan gua pada saat itu. Gua sering nonton youtube Zahid Azmi Ibrahim dan juga dengerin podcast dari froyonion (Frodcast) yang saat itu lagi gencar gencarnya menyuarakan untuk baca buku sampai mereka buat komunitas baca buku di discord.

Hal-hal tersebut yang membuat gua kembali untuk membaca buku. Gua membeli dua buku sekaligus, Atomic Habit by James Clear dan Fear of Misisng Out by Patrick J Mcginns. Tapi seinget gua sebelum itu gua udah beli buku You do you by Fellexandro Ruby yang sering gua tonton youtubenya.

Habit tersebut berjalan lancar, gua menerapkan habit untuk membaca buku di pagi hari sebelum memulai kegiatan. Mulai dari 10 halaman dulu sehari sampai kalau misalkan bisa lebih ya lanjutkan aja, yang penting kita paham apa yang kita baca dari buku tersebut. Habit itu yang bikin gua nambah buku terus. Setelah itu gua beli beberapa buku dan beberapa gua selesaikan dan beberapa terbengkalai begitu saja. Beberapa waktu habit gua mulai hilang karena mungkin bacaan yang gua baca pada saat itu sedikit lebih berat daripada level gua saat itu. Tapi sifat konsumtif gua masih menggebu, ketika ada karya dari salah satu penulis yang gua tau, gua berusaha untuk beli, beli, beli dan ya, akhirnya banyak buku yang belum gua baca sampai sekarang.

Tiga tahun berlalu dan jatuh di tahun 2025. Banyak hal yang gua laluin dalam hidup. Pergeseran pemikiran dan cara pandang pada beberapa hal. Tadinya, gua berpikir gua perlu banyakin baca buku nonfiksi / kategori self-improvement untuk berkembang, menambah wawasan, dan fafifuwasweswos. Namun, ternyata gua ada di fase overmotivated (?) (gua gatau nama kondisi ini apa) intinya gua selalu diberikan motivasi motivasi yang sebenarnya bagus tapi saking banyaknya yang masuk, gua jadi bingung untuk melakukan yang mana terlebih dahulu dan akhirnya bikin gua ga melakukan apa apa. Bahkan yang tadinya gua dapet doktrin baca buku self-improvement untuk nambah wawasan, jadi hilang ketertarikan gua untuk baca buku.

Gua juga lagi di fase evaluasi cara interaksi gua ke orang lain. Gua mempelajari bahwa sepertinya skill storytelling gua kurang bagus pada saat nongkrong, jadi banyak orang yang awalnya udah excited denger cerita gua, tapi di bagian klimaksnya malah biasa aja. Gua ngerasa gua belum bisa men-deliver cerita itu dengan baik. 

Gua pun sering kali untuk nonton beberapa tokoh yang menurut gua skill storytellingnya baik. Komika terkenal? Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, Dany Beler. Youtuber? Dokter Tirta (dokter sih tapi sering edukasi lewat youtube) dan masih banyak lagi orang yang memiliki skill storytelling yang baik. Hal yang paling memukau gua adalah ketika Dokter Tirta diundang ke Podcast Gita Wirjawan dan dengan hanya satu pertanyaan Pak Gita, Dokter Tirta bisa jawab itu dalam waktu setengah jam dan ga boring sama sekali.

Setelah gua pelajari dari banyak tontonan di youtube ataupun yang gua baca. Kalau mau bisa story-telling, lu perlu bisa menulis story tersebut atau dengan cara lain, yaitu baca buku yang ada ceritanya. Kebiasaan itu perlu dibangun agar lu bisa menjelaskan cerita lu secara runtut dengan tidak berlebihan atau kekurangan informasi. Hal itu yang bikin gua sekarang untuk mencoba membaca buku fiksi. Di artikel sebelumnya, gua bilang kalau gua lagi baca buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya dan sekarang gua udah baca itu sekitar 68 halaman. Lumayan untuk mengisi waktu gua di transjakarta saat pergi/pulang ke/dari tempat magang.

Jadi, bacaan yang mulai berbeda itu berbeda dengan yang ada di lirik Mangu, tetapi ini bacaan buku gua yang mulai berbeda, yang tadinya sangat terobesesi untuk baca buku self-improvement, sekarang gua beralih ke buku fiksi.

Komentar